Meskipun hanya aktivitas sepele, aktivitas menyentuh dan disentuh dapat mengaktifkan area tertentu di otak sehingga memengaruhi proses berpikir, reaksi, dan bahkan respons fisiologis.
Sebuah studi berjudul “Touch for socioemotional and physical well-being: A review” melaporkan bahwa pemindaian otak telah mengungkapkan bahwa sentuhan afektif mengaktifkan korteks orbitofrontal, yakni wilayah otak yang berkaitan dengan pengambilan keputusan dan pembelajaran.
Dikutip dari Smithsonian Magazine, eksperimen lain yang dilakukan oleh Rafael Wlodarski, peneliti University of Oxford, juga menunjukkan bahwa ciuman romantis adalah alat yang penting - terutama bagi wanita - ketika memilih pasangan.
Hal ini disebabkan campuran kimia yang ditemukan dalam air liur seseorang menyampaikan informasi penting ke otak tentang kompatibilitas fisiologis mereka.
Sentuhan afektif, seperti pelukan, juga dapat menenteramkan dan menenangkan orang yang sedang kesusahan karena dapat mengkomunikasikan tawaran dukungan dan empati.
Sebuah studi berjudul “The Comforting Touch: Tactile Intimacy and Talk in Managing Children’s Distress” menunjukkan bahwa memeluk dan menepuk anak-anak ketika mereka dalam kesusahan memiliki efek menenangkan.
Dalam keadaan seperti itu, interaksi melibatkan pensinyalan orang dewasa bahwa mereka ada untuk menawarkan kontak yang menenangkan.
Kemudian, diikuti oleh pengakuan anak atas undangan ini dan respons positif terhadapnya.
Interaksi dan koordinasi yang terlibat dengan skenario ini memungkinkan anak yang sedang berada dalam kesusahan untuk mendapatkan kembali rasa aman dan kepastian.