GridStar.ID - Wabah virus corona di seluruh dunia masih menjadi pandemi.
Apalagi, hingga kini belum ditemukan adanya vaksin virus corona yang membuat penuntasan covid-19 semakin lama.
Namun, kini sejumlah negara di dunia berupaya mengembangkan vaksin virus corona.
Melansir SCMP, sebanyak 30 negara di seluruh dunia terlibat dalam penelitian untuk menemukan vaksin untuk menyelamatkan populasi dari virus corona.
Sebab hingga saat ini, jumlah kasus infeksi global telah melampaui 7,5 juta jiwa dan kasus kematian lebih dari 430.000 jiwa.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sejumlah universitas, perusahaan farmasi, lembaga penelitian, dan laboratorium pemerintah di negara-negara seperti AS, China, Kazakhstan, dan Thailand sedang mengerjakan 133 kemungkinan uji coba vaksinasi pada awal Juni.
Apa yang perlu diketahui mengenai vaksin Covid-19?
Secara keseluruhan, AS memimpin perlombaan vaksin dengan 39 proyek penelitian, baik secara mandiri atau dalam kemitraan dengan negara lain.
Sementara itu, lembaga dan perusahaan China tengah mengerjakan 20 proyek penelitian vaksin virus corona. Dari 39 proyek yang sedang berjalan di AS, 11 di antaranya telah melampaui fase praklinis, yang berarti pengujian telah dilakukan pada manusia.
China mengerjakan lima pengembangan vaksin tersebut, sementara AS menggarap tiga lainnya.
Calon vaksin terkemuka sedang dikembangkan oleh perusahaan farmasi raksasa AstraZeneca yang berbasis di Inggris. Kabar selanjutnya diperkirakan dapat datang pada awal September.
Di akhir Mei sebuah studi mengatakan bahwa percobaan fase satu dari vaksin Covid-19 potensial yang dikembangkan oleh ahli virologi militer China menunjukkan hasil yang menjanjikan.
Mayor Jenderal Chen Wei yang memimpin tim peneliti mengungkapkan kemampuan untuk memicu respons kekebalan tidak selalu menunjukkan bahwa vaksin akan melindungi manusia dari Covid-19.
Berapa banyak dana yang dikeluarkan?
Dana sebanyak puluhan miliar dolar telah disuntikkan ke dalam penelitian vaksin Covid-19. Sekitar 2,38 miliar dollar AS telah dihabiskan untuk 11 proyek teratas yang sedang dalam tahap uji klinis.
WHO telah mempercepat penelitian dan memfasilitasi komunikasi internasional dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah.
Pada awal Mei, WHO mengumpulkan 8,1 miliar dollar AS. Pemerintah dan perorangan telah meningkatkan dukungan terhadap ini.
Pada awal Juni, pemerintah dan organisasi di seluruh dunia menjanjikan 8,8 miliar dollar AS untuk membantu mengimunisasi anak-anak di negara-negara termiskin di dunia.
Dana tersebut akan diarahkan ke aliansi global untuk Vaksin dan Imunisasi (GAVI) yang membeli dan mendistribusikan vaksin untuk anak-anak di daerah miskin.
Pada bulan April, Badan Penelitian dan Pengembangan Lanjutan Biomedis AS, sebuah badan federal yang mendanai teknologi pemberantasan penyakit mengumumkan menginvestasikan 1 miliar dollar AS untuk mendukung pengembangan vaksin American Covid-19.
Obat Covid-19
Sementara vaksin sedang dikembangkan, pihak berwenang berharap dalam waktu yang berarti untuk menemukan cara yang layak menggunakan obat guna mengobati Covid-19.
Menurut Milken Institute, sebuah lembaga think tank yang berbasis di California, ada lebih dari 220 perawatan yang dipertimbangkan.
Namun, keefektifan dan risiko efek sampingnya masih diperdebatkan oleh para ilmuwan dan pembuat kebijakan.
Obat-obatan yang berpotensi digunakan untuk mengobati penyakit seperti hidroksi klorokuin, yang digunakan untuk mengobati malaria, di mana telah disebut-sebut sebagai salah satu cara untuk mengobati pasien Covid-19.
Presiden AS Donald Trump mengaku bahwa ia menggunakan obat itu untuk menangkal Covid-19.
Laporan dari China dan Perancis mengklaim bahwa obat tersebut ditemukan memiliki efek positif.
Namun, efeknya ini masih diperdebatkan. Sebuah studi 22 Mei dari The Lancet, yang kemudian ditarik kembali, mengatakan bahwa hidroksi klorokuin tidak efektif dalam mencegah atau mengurangi gejala Covid-19.
Selain itu, ada pula Remdesivir yang disebut memiliki efek positif pada pasien Covid-19.
Obat ini pertama kali dikembangkan oleh Gilead untuk mengobati Ebola, penyakit virus lain yang sudah ada sejak tahun 1970-an, kebanyakan ditemukan di Afrika.
Negara-negara seperti Australia, India, dan AS telah mengizinkan penggunaan obat ini untuk mengobati pasien Covid-19.
Sementara obat ibuprofen yang menghilangkan rasa sakit dengan harga murah juga dapat digunakan untuk mengurangi gejala Covid-19, menurut Sky News mengutip para peneliti di sebuah rumah sakit di London.
Tapi, sejumlah ahli mengatakan bahwa ibuprofen memperburuk gejala penyakit akibat corona virus.
Upaya filantropis global
Kontribusi Bill dan Melinda Gates Foundation terhadap upaya pengembangan vaksin global sempat memantik perhatian.
Gates berfokus pada penyediaan dana untuk memberi insentif kepada para pembuat vaksin sehingga cukup untuk memenuhi kebutuhan negara-negara berkembang setelah disetujui oleh regulator.
Boss Microsoft bergabung dengan pembuat vaksin terbesar di dunia Serum Institute of India, dengan kesepakatan pendanaan senilai 750 juta dollar AS untuk produsen obat Inggris AstraZenec.
Ini akan menggandakan kapasitas global perusahaan untuk menghasilkan kandidat vaksin Covid-19 yang sedang dikembangkan oleh para peneliti Universitas Oxford menjadi dua miliar dosis.
Badan amal tersebut adalah Davos, koalisi untuk kesiapsiagaan epidemi berbasis di Swiss yang didirikan oleh Bill and Melinda Gates Foundation pada tahun 2016, dan Gavi the Vaccine Alliance.
Pada 4 Juni, Gates Foundation membuat komitmen lima tahun senilai 1,6 miliar dolar AS untuk Gavi, kemitraan publik-swasta yang membantu memvaksinasi separuh anak-anak di dunia dari penyakit mematikan.
Yayasan sejauh ini telah berkomitmen sebesar 355 juta dollar AS untuk mendukung respons global memerangi pandemi corona virus baru.
Jumlah itu termasuk 100 juta dollar AS bagi Gavi untuk ekspansi kapasitas produksi vaksin Covid-19, dengan sisanya ditujukan untuk memperkuat deteksi, isolasi, dan pengobatan penyakit.
Bill Gates mengatakan dalam blognya 30 April lalu bahwa ia percaya dunia hanya akan kembali ke keadaan semula pada bulan Desember sebelum pandemi corona virus diidentifikasi.
Yaitu ketika penyembuhan 95 persen efektif ditemukan atau ketika sebagian besar populasi di dunia, sekitar 7,8 miliar orang telah divaksinasi.
Miliarder filantropis dan salah satu pendiri raksasa perangkat lunak Microsoft, mengatakan akan memakan waktu sembilan bulan atau selama dua tahun untuk mengembangkan vaksin. (*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Update Vaksin Corona: Sebanyak 11 Jenis Sudah Diuji Coba pada Manusia