GridStar.ID - Kisah pemakaman korban pandemi corona selalu membuat iba.
Mulai dari jenazah yang acap kali ditolak warga tak boleh dimakamkan di wilayahnya.
Hingga kesedihan para keluarga yang tak bisa mengantarkan orang tersayangnya ke tempat peristirahatan terakhir.
Belum lagi tempat pemakaman yang dibuat khusus untuk pasien Covid-19 hanyalah sekadarnya.
Sebuah kota di Brasil menggali kuburan massal, tepatnya adalah 13.000 makam, di tengah perjuangan mereka melawan Covid-19.
Melansir Kompas.com, Di kota Sao Paulo, otoritas kesehatan yang kewalahan dengan penyebaran wabah mulai menggali makam, berdasarkan foto dari kameramen Eduardo Duwe.
Dilansir Sky News Jumat (01/05), gambar yang diambil dari udara itu menunjukkan kuburan massal di kompleks pemakaman Vila Formosa.

:quality(100)/photo/2020/05/03/2926652874.jpg)
Bikin Merinding! Brasil Gali 13.000 Liang Lahat untuk Korban Corona, Mulai 'Menyerah' dengan Jumlah Pasien yang Terus Bertambah, Pemerintah Siapkan Hamparan Kuburan Massal
Menjadi yang terbesar di Amerika Latin dengan hamparan liang lahat sejauh mata memandang.
Hingga kini tim medis di Brasil masih berjuang mengalahkan corona.
Meski begitu, mereka terancam menghadapi kekalahan dari pandemi Covid-19 ini.
Karena itu, Sky News memberitakan pemakaman itu seolah menjadi simbol kegagalan untuk menanggulangi virus yang sudah menjangkiti 3,4 juta jiwa di seluruh dunia.
Dengan mengenakan baju pelindung lengkap, penggali makam dan tim pemulasaraan terlihat kesulitan berjalan di tanah yang baru saja digali.
Produser Sky News Marcia Reverdosa menceritakan momen pilu yang dilihatnya di Vila Formosa.
Dia mengatakan begitu memasuki kompleks Vila Formosa, atsmofernya begitu sedih.
Momen penguburan juga dilakukan dengan cepat.
Begitu cepat hingga keluarga yang berduka tak sempat memberikan penghormatan terakhir.
"Kedatangan, pengecekan dokumen, dengan keluarga diberikan waktu beberapa menit untuk berkabung jika terdapat jeda," papar Reverdosa.
Reverdosa menerangkan, suasana begitu pilu tatkala menyaksikan keluarga mengamati proses pemulasaraan tersebut di tengah liang terbuka lainnya.
"Setelah (pemakaman) selesai, anggota keluarga lain akan menempati tempat mereka, dengan proses bakal dimulai kembali," jelasnya.
Stigma yang berkembang, masih banyak keluarga yang menolak mengakui bahwa kerabatnya wafat karena terjangkit virus corona.
Meski rumah sakit percaya korban meninggal karena terinfeksi, dikarenakan tes sangat terbatas, banyak keluarga tak percaya.
Karena korban diyakini terpapar virus, maka hanya sedikit anggota keluarga yang diperbolehkan untuk mengikuti pemakaman di Vila Formosa.
(*)